Pada program studi Budidaya Perairan kamu akan
mempelajari ilmu tentang aktivitas pemeliharaan, penangkaran, dan
pengembangbiakan biota perairan laut maupun air tawar, seperti ikan, udang,
tiram, rumput laut, dan sebagainya. Dalam kegiatan budidaya organisme perairan
tentunya aspek kualitas air dan wadah sangat diperhatikan. Mirip dengan yang
dipelajari pada program studi Budidaya Perikanan, namun cakupan dari program
studi Budidaya Perairan lebih luas, dan tidak terbatas hanya pada komoditas
ikan saja. Jadi tidak hanya terbatas pada bagaimana pembibitan, pemeliharaan,
kesehatan, dan teknologi pakan ikan saja, tapi juga tumbuhan air, serta
menyangkut kelestarian lingkungan.
Program studi ini sangat dibutuhkan di Indonesia dapat
dilihat dari bentuk geografis Indonesia dengan 70% wilayahnya adalah laut. Jika
kalian sangat tertarik untuk mendalami dunia perairan (laut, sungai, rawa, dll)
dan juga ingin mengenal serta mendalami ilmu tentang budidaya ikan, udang, dan
lainnya kalian sangat cocok kuliah di jurusan ini. Selain itu kalian yang
tertarik dengan biologi dan segala hal tentang perairan juga cocok untuk kuliah
di jurusan ini.
Budi
daya perairan (akuakultur)
merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau
tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya.
Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk di dalamnya adalah budi daya ikan, budi daya udang, budi daya tiram, budi daya rumput laut (alga). Dengan batasan di atas, sebenarnya
cakupan budi daya perairan sangat luas namun penguasaan teknologi membatasi
komoditi tertentu yang dapat diterapkan.
Budi
daya perairan adalah bentuk perikanan budi daya, untuk dipertentangkan dengan
perikanan tangkap.
Sejarah
Masyarakat
pribumi Gunditjmara di Australia kemungkinan
telah memelihara belut pada
6000 tahun SM. Terdapat bukti bahwa mereka telah mengubah dataran seluas
100 km2 di dekat danau Condah menjadi sekumpulan selat
dan bendungan menggunakan
anyaman yang digunakan sebagai jebakan ikan dan
menjaga populasi belut agar dapat dimakan sepanjang tahun.[1][2]
Akuakultur
di China telah beroperasi sejak 2500 tahun SM.[3] Pasca
peluapan musiman sungai, beberapa jenis ikan, umumnya ikan mas terperangkap
di kolam. Pembudidaya
memberi makan ikan-ikan tersebut dengan larva dan kotoran ulat sutra. Seleksi
telah menciptakan ikan koi dan
ikan hias lainnya sejak Dinasti Tang.
Bangsa Romawi telah
membudidayakan ikan di kolam.[4] Di
Eropa tengah, berbagai biara umat
kristiani mengadopsi praktik akuakultur bangsa Romawi.[5] Akuakultur
di Eropa menyebar pada Abad Pertengahan karena ikan dan produk ikan harus diasinkan supaya awet sebelum didistribusikan ke
tempat yang jauh dari perairan dan ketika itu transportasi cukup mahal.[6]
Di
Amerika Serikat, pengembangan ikan spesies Salvelinus fontinalis dimulai pada
tahun 1859 dan perbenihan ikan komersial dimulai pada tahun 1864.[7] Warga
California memanen kelp pada
tahun 1900 dan berusaha untuk menjaga suplainya agar tetap lestari. Kelpyang dipanen disuplai untuk Perang Dunia I.[8]
Hingga
tahun 2007, sekitar 430 spesies ikan telah dibudidayakan oleh manusia, dengan
106 spesies baru dimulai di dekade tersebut. Berbeda dengan budi daya tanaman
di mana saat ini hanya 0.08% tumbuhan yang telah didomestikasi dan budi daya
hewan darat yang baru mendomestikasikan 0.0002%
spesies hewan darat, spesies hewan laut yang telah didomestikasikan elah
mencapai 0.13% dan tumbuhan laut 0.17%. Domestikasi umumnya dilakukan setelah
puluhan tahun penelitian dan pengamatan.[9] Domestikasi
spesies perairan memiliki risiko yang lebih rendah karena tidak menularkan
penyakit ke manusia dan cenderung tidak membahayakan.[10]Tertahannya
volume perikanan
tangkap yang diakibatkan oleh eksploitasi berlebih dari spesies laut
membuat para pelaku budi daya perikanan mulai mendomestikasikan hewan laut.
Spesies yang dibudidayakan
Ikan
merupakan hewan yang paling umum dibudidayakan dalam akuakultur. Budi daya ikan
mengusahakan pemeliharaan ikan secara komersial di kolam, tangki, atau laut
dengan pembatas atau pelindung. Budi daya ikan juga membesarkan ikan untuk
tujuan pemancingan
rekreasi atau suplemen untuk meningkatkan jumlah ikan yang ada
di alam liar. Saat ini ikan yang paling banyak dibudidayakan yaitu ikan mas, salmon, nila, dan lele.[13]
Di
Mediterania, nelayan menjaring ikan tuna sirip biru Atlantik muda dalam keadaan
hidup dan memeliharanya di dekat pantai hingga siap dipanen.[14]
Crustacea
Budi
daya udang di Asia
Tenggara kini beranjak dari usaha tradisional hingga industri
skala besar. Peningkatan teknologi meningkatkan kepadatan udang di dalam kolam,
dan bibit udang dijual ke seluruh dunia. Saat ini seluruh jenis udang yang
dibudidayakan berasal dari famili Penaeidae dengan 80%-nya berasal dari
spesies Penaeus
monodon dan Litopenaeus vannamei. Secara umum udang
air tawar maupun air laut memiliki karakteristik dan penyakit yang sama.[15]
Praktik monokultur udang
sangat rentan terhadap penyebaran penyakit yang mampu membinasakan seluruh
udang yang dipelihara serta membahayakan lingkungan sekitar, sehingga praktik pemeliharaan secara lestari dipromosikan
oleh berbagai organisasi lingkungan.[16]
Mollusca
Budi daya kerang mencakup juga tiram dan spesies bivalvia lainnya.
Mereka merupakan hewan penyaring dan deposit yang bergantung pada keberadaan
plankton sebagai makanannya..[18] Pembudidayaan kerang secara
umum amat bergantung pada jenis spesies dan kondisi lingkungan tempat ia hidup.
Kerang dapat dipelihara di tambak pantai, menggunakan rawai, atau dikurung di dalam kandang
mengapung. Kerang liar juga dapat ditangkap dengan
mengambilnya secara manual dengan tangan atau mengeruknya dari dasar laut.
Spesies
lainnya
Rumput laut dan alga juga termasuk spesies yang
dipelihara dalam budi daya perairan. Hewan lainnya seperti timun laut, landak laut, ular laut, dan ubur-ubur juga
dipelihara meski masih jarang. Di Cina, timun laut telah dipelihara di kolam.[22]
Dampak
Akuakultur
dibandingkan perikanan
tangkap dapat lebih merusak lingkungan secara lokal namun lebih
bersahabat secara global, per kg hasil.[23] Kerusakan
lokal mencakup masalah penanganan limbah, penggunaan antibiotik, kompetisi
antara hewan budi daya dan hewan liar, dan penggunaan ikan tangkapan dan budi
daya untuk membudidayakan ikan karnivora. Spesies budi daya dapat menjadi spesies invasif jika
terlepas ke lingkungan karena mereka diseleksi untuk tumbuh dan berkembang biak
dengan cepat.Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengurangi masalah
tersebut.[24]
Limbah
dari akuakultur umumnya bersifat organik dan dapat terurai menjadi nutrisi
untuk organisme lain. Namun keberadaan limbah organik yang terlalu banyak dapat
mempengaruhi kadar oksigen
terlarut di dalam air karena proses dekomposisi,
sehingga membahayakan hewan yang amat tergantung pada oksigen terlarut.[25]
Dampak
terhadap ikan liar
Ikan salmon kini
sedang disorot karena praktik budi dayanya. Ikan salmon merupakan karnivora
yang membutuhkan ikan hasil tangkapan nelayan sebagai sumber pakannya.[26]Meski
dapat diberi makan dari sumber nabati, namun hasilnya akan kurang baik karena
salmon terkenal dengan kandungan asam lemak omega 3 yang hanya didapatkan
dari akumulasi pada rantai
makanan. Secara keseluruhan, nutrisi yang dihasilkan dari salmon
jauh lebih rendah dari nutrisi yang didapatkan dari ikan yang diberikan kepada
salmon. Total kadar minyak
ikan dari ikan yang diberikan ke salmon lebih tinggi 50%
dibandingkan minyak ikan yang dihasilkan salmon.[27] Dalam
massa daging,
satu kg daging ikan salmon didapatkan setelah memberikan beberapa kg ikan hasil
tangkapan ke salmon. Pengembangan budi daya ikan salmon akan menyerap lebih
banyak lagi ikan hasil tangkapan nelayansehingga
penangkapan ikan akan melebih batas kelestarian.[28]
Ikan
salmon hasil budi daya juga telah diseleksi dan dimodifikasi secara genetika untuk
menghasilkan salmon yang superior[29] sehingga
lepasnya ikan salmon ke alam liar dapat mencemari genetika populasi ikan liar
jika terjadi perkembangbiakan dengan spesies liar[30] dan
menjadi spesies
invasif.[31][32] Dalam
sebuah percobaan di lab, ikan salmon liar yang bersilangan dengan ikan salmon
hasil modifikasi genetika lebih agresif namun pada akhirnya tidak mampu
bertahan.[33] Hal
ini dapat menyebabkan punahnya salmon di alam liar.
Ekosistem
pantai
Akuakultur
dapat membahayakan ekosistem perairan dekat pantai. Sekitar 20% dari hutan bakau di
seluruh dunia telah dirobohkan sejak tahun 1980an untuk membangun tambak udang.[34] Biaya eksternal pada
sistem perekonomian primitif tidak diperhitungkan sehinga secara keseluruhan
kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan.[35] Selama
empat dekade di Indonesia, 269 ribu hektare hutan mangrove telah diubah menjadi
tambak udang dan saat ini telah dibiarkan karena terjadi penumpukan toksin akibat
usaha budi daya yang tidak lestari..
Budi daya salmon mampu mencemari perairan
setempat dengan fesesnya, yang seringkali mengandung antibiotik dan pestisida
sistemik yang diberikan untuk menangkal penyakit dan hama. Akumulasi logam juga terjadi, terutama tembaga dan seng.
Prospek
Perikanan tangkap secara
global mengalami penurunan dengan rusaknya berbagai habitat ikan. Budi
daya ikan karnivora seperti salmon tidak membantu karena salmon justru
memakan ikan lain yang sesungguhnya dapat dikonsumsi manusia.[40][41] Ikan
yang berada pada tingkatan trofik yang tinggi pada rantai makanan cenderung
tidak efisien sebagai produsen pangan.
Beberapa
jenis akuakultur fotosintetik (alga dan rumput laut) dan hewan penyaring
seperti kerang dan tiram cenderung lebih ramah lingkungan. Mereka
juga menyerap polusi dan nutrisi berlebih di perairan sehingga meningkatkan
kualitas air.[ Rumput laut menyerap
nutrisi anorganik secara langsung dari air,[43] dan
hewan penyaring menyerap fitoplanktondan
partikel organik sehingga berperan sebagai detritivora.[44]
Berbagai
organisasi akuakultur mempromosikan praktik usaha yang menguntungkan secara
lestari dan berkelanjutan.[45] Metode
ini mengurangi risiko pencemaran dan
meminimalisasi stres pada ikan, mengistirahatkan kolam, dan menerapkan manajemen hama terpadu. Penggunaan vaksin diutamakan
untuk mengurangi antibiotik.[46]
Sistem
resirkulasi mendaur ulang air dengan menyaring kotoran ikan dan sisa makanan
dan mengembalikan air yang telah bersih ke dalam tangki pemeliharaan. Sistem
ini menghemat penggunaan air, dan limbah yang terkumpul dapat digunakan
sebagai kompos. Sistem ini
dapat diterapkan pada air tawar maupun air laut.[47]
Beberapa
negara kini menggunakan energi terbarukan untuk akuakultur.[48] Di
California, berbagai usaha budi daya ikan yang memproduksi ikan nilai, bass,
dan lele mengambil air dari sumber geotermal sehingga
mengurangi energi yang diperlukan untuk menghangatkan air. Dengan terjaganya
temperatur air, ikan dapat tumbuh secara optimal sepanjang tahun dan menjadi
dewasa lebih cepat. Secara kolektif, perikanan budi daya di California
menghasilkan 4.5 juta kilogram ikan per tahun.




