Minggu, 28 April 2019

BUDIDAYA PERAIRAN


Pada program studi Budidaya Perairan kamu akan mempelajari ilmu tentang aktivitas pemeliharaan, penangkaran, dan pengembangbiakan biota perairan laut maupun air tawar, seperti ikan, udang, tiram, rumput laut, dan sebagainya. Dalam kegiatan budidaya organisme perairan tentunya aspek kualitas air dan wadah sangat diperhatikan. Mirip dengan yang dipelajari pada program studi Budidaya Perikanan, namun cakupan dari program studi Budidaya Perairan lebih luas, dan tidak terbatas hanya pada komoditas ikan saja. Jadi tidak hanya terbatas pada bagaimana pembibitan, pemeliharaan, kesehatan, dan teknologi pakan ikan saja, tapi juga tumbuhan air, serta menyangkut kelestarian lingkungan.
Program studi ini sangat dibutuhkan di Indonesia dapat dilihat dari bentuk geografis Indonesia dengan 70% wilayahnya adalah laut. Jika kalian sangat tertarik untuk mendalami dunia perairan (laut, sungai, rawa, dll) dan juga ingin mengenal serta mendalami ilmu tentang budidaya ikan, udang, dan lainnya kalian sangat cocok kuliah di jurusan ini. Selain itu kalian yang tertarik dengan biologi dan segala hal tentang perairan juga cocok untuk kuliah di jurusan ini.
Budi daya perairan (akuakultur) merupakan bentuk pemeliharaan dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan perairan yang menggunakan air sebagai komponen pokoknya. Kegiatan-kegiatan yang umum termasuk di dalamnya adalah budi daya ikanbudi daya udangbudi daya tirambudi daya rumput laut (alga). Dengan batasan di atas, sebenarnya cakupan budi daya perairan sangat luas namun penguasaan teknologi membatasi komoditi tertentu yang dapat diterapkan.
Budi daya perairan adalah bentuk perikanan budi daya, untuk dipertentangkan dengan perikanan tangkap.
Di Indonesia, budi daya perairan dilakukan melalui berbagai sarana. Kegiatan budi daya yang paling umum dilakukan di kolam/empangtambaktangkikaramba, serta karamba apung.
Sejarah 
Masyarakat pribumi Gunditjmara di Australia kemungkinan telah memelihara belut pada 6000 tahun SM. Terdapat bukti bahwa mereka telah mengubah dataran seluas 100 km2 di dekat danau Condah menjadi sekumpulan selat dan bendungan menggunakan anyaman yang digunakan sebagai jebakan ikan dan menjaga populasi belut agar dapat dimakan sepanjang tahun.[1][2]
Akuakultur di China telah beroperasi sejak 2500 tahun SM.[3] Pasca peluapan musiman sungai, beberapa jenis ikan, umumnya ikan mas terperangkap di kolam. Pembudidaya memberi makan ikan-ikan tersebut dengan larva dan kotoran ulat sutra. Seleksi telah menciptakan ikan koi dan ikan hias lainnya sejak Dinasti Tang.
Bangsa Romawi telah membudidayakan ikan di kolam.[4] Di Eropa tengah, berbagai biara umat kristiani mengadopsi praktik akuakultur bangsa Romawi.[5] Akuakultur di Eropa menyebar pada Abad Pertengahan karena ikan dan produk ikan harus diasinkan supaya awet sebelum didistribusikan ke tempat yang jauh dari perairan dan ketika itu transportasi cukup mahal.[6]
Di Amerika Serikat, pengembangan ikan spesies Salvelinus fontinalis dimulai pada tahun 1859 dan perbenihan ikan komersial dimulai pada tahun 1864.[7] Warga California memanen kelp pada tahun 1900 dan berusaha untuk menjaga suplainya agar tetap lestari. Kelpyang dipanen disuplai untuk Perang Dunia I.[8]
Hingga tahun 2007, sekitar 430 spesies ikan telah dibudidayakan oleh manusia, dengan 106 spesies baru dimulai di dekade tersebut. Berbeda dengan budi daya tanaman di mana saat ini hanya 0.08% tumbuhan yang telah didomestikasi dan budi daya hewan darat yang baru mendomestikasikan 0.0002% spesies hewan darat, spesies hewan laut yang telah didomestikasikan elah mencapai 0.13% dan tumbuhan laut 0.17%. Domestikasi umumnya dilakukan setelah puluhan tahun penelitian dan pengamatan.[9] Domestikasi spesies perairan memiliki risiko yang lebih rendah karena tidak menularkan penyakit ke manusia dan cenderung tidak membahayakan.[10]Tertahannya volume perikanan tangkap yang diakibatkan oleh eksploitasi berlebih dari spesies laut membuat para pelaku budi daya perikanan mulai mendomestikasikan hewan laut.
Spesies yang dibudidayakan
Ikan merupakan hewan yang paling umum dibudidayakan dalam akuakultur. Budi daya ikan mengusahakan pemeliharaan ikan secara komersial di kolam, tangki, atau laut dengan pembatas atau pelindung. Budi daya ikan juga membesarkan ikan untuk tujuan pemancingan rekreasi atau suplemen untuk meningkatkan jumlah ikan yang ada di alam liar. Saat ini ikan yang paling banyak dibudidayakan yaitu ikan massalmonnila, dan lele.[13]
Di Mediterania, nelayan menjaring ikan tuna sirip biru Atlantik muda dalam keadaan hidup dan memeliharanya di dekat pantai hingga siap dipanen.[14]
Crustacea
Budi daya udang di Asia Tenggara kini beranjak dari usaha tradisional hingga industri skala besar. Peningkatan teknologi meningkatkan kepadatan udang di dalam kolam, dan bibit udang dijual ke seluruh dunia. Saat ini seluruh jenis udang yang dibudidayakan berasal dari famili Penaeidae dengan 80%-nya berasal dari spesies Penaeus monodon dan Litopenaeus vannamei. Secara umum udang air tawar maupun air laut memiliki karakteristik dan penyakit yang sama.[15]
Praktik monokultur udang sangat rentan terhadap penyebaran penyakit yang mampu membinasakan seluruh udang yang dipelihara serta membahayakan lingkungan sekitar, sehingga praktik pemeliharaan secara lestari dipromosikan oleh berbagai organisasi lingkungan.[16]
Produksi udang secara global (tanpa kepiting dan lobster) pada tahun 2003 adalah 230 ribu ton.[17]
Mollusca


Budi daya kerang mencakup juga tiram dan spesies bivalvia lainnya. Mereka merupakan hewan penyaring dan deposit yang bergantung pada keberadaan plankton sebagai makanannya..[18] Pembudidayaan kerang secara umum amat bergantung pada jenis spesies dan kondisi lingkungan tempat ia hidup. Kerang dapat dipelihara di tambak pantai, menggunakan rawai, atau dikurung di dalam kandang mengapung. Kerang liar juga dapat ditangkap dengan mengambilnya secara manual dengan tangan atau mengeruknya dari dasar laut.
Abalon dipelihara sejak tahun 1950an di Jepang dan Cina.[19] Sejak tahun 1990an industri ini terus berkembang[20] yang disebabkan menurunnya suplai tangkapan abalon akibat penangkapan berlebih.[21]
Spesies lainnya
Rumput laut dan alga juga termasuk spesies yang dipelihara dalam budi daya perairan. Hewan lainnya seperti timun lautlandak lautular laut, dan ubur-ubur juga dipelihara meski masih jarang. Di Cina, timun laut telah dipelihara di kolam.[22]


Dampak
Akuakultur dibandingkan perikanan tangkap dapat lebih merusak lingkungan secara lokal namun lebih bersahabat secara global, per kg hasil.[23] Kerusakan lokal mencakup masalah penanganan limbah, penggunaan antibiotik, kompetisi antara hewan budi daya dan hewan liar, dan penggunaan ikan tangkapan dan budi daya untuk membudidayakan ikan karnivora. Spesies budi daya dapat menjadi spesies invasif jika terlepas ke lingkungan karena mereka diseleksi untuk tumbuh dan berkembang biak dengan cepat.Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengurangi masalah tersebut.[24]
Limbah dari akuakultur umumnya bersifat organik dan dapat terurai menjadi nutrisi untuk organisme lain. Namun keberadaan limbah organik yang terlalu banyak dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut di dalam air karena proses dekomposisi, sehingga membahayakan hewan yang amat tergantung pada oksigen terlarut.[25]
Dampak terhadap ikan liar
Ikan salmon kini sedang disorot karena praktik budi dayanya. Ikan salmon merupakan karnivora yang membutuhkan ikan hasil tangkapan nelayan sebagai sumber pakannya.[26]Meski dapat diberi makan dari sumber nabati, namun hasilnya akan kurang baik karena salmon terkenal dengan kandungan asam lemak omega 3 yang hanya didapatkan dari akumulasi pada rantai makanan. Secara keseluruhan, nutrisi yang dihasilkan dari salmon jauh lebih rendah dari nutrisi yang didapatkan dari ikan yang diberikan kepada salmon. Total kadar minyak ikan dari ikan yang diberikan ke salmon lebih tinggi 50% dibandingkan minyak ikan yang dihasilkan salmon.[27] Dalam massa daging, satu kg daging ikan salmon didapatkan setelah memberikan beberapa kg ikan hasil tangkapan ke salmon. Pengembangan budi daya ikan salmon akan menyerap lebih banyak lagi ikan hasil tangkapan nelayansehingga penangkapan ikan akan melebih batas kelestarian.[28]
Ikan salmon hasil budi daya juga telah diseleksi dan dimodifikasi secara genetika untuk menghasilkan salmon yang superior[29] sehingga lepasnya ikan salmon ke alam liar dapat mencemari genetika populasi ikan liar jika terjadi perkembangbiakan dengan spesies liar[30] dan menjadi spesies invasif.[31][32] Dalam sebuah percobaan di lab, ikan salmon liar yang bersilangan dengan ikan salmon hasil modifikasi genetika lebih agresif namun pada akhirnya tidak mampu bertahan.[33] Hal ini dapat menyebabkan punahnya salmon di alam liar.
Ekosistem pantai
Akuakultur dapat membahayakan ekosistem perairan dekat pantai. Sekitar 20% dari hutan bakau di seluruh dunia telah dirobohkan sejak tahun 1980an untuk membangun tambak udang.[34] Biaya eksternal pada sistem perekonomian primitif tidak diperhitungkan sehinga secara keseluruhan kerugian jauh lebih besar dibandingkan keuntungan yang didapatkan.[35] Selama empat dekade di Indonesia, 269 ribu hektare hutan mangrove telah diubah menjadi tambak udang dan saat ini telah dibiarkan karena terjadi penumpukan toksin akibat usaha budi daya yang tidak lestari..
Budi daya salmon mampu mencemari perairan setempat dengan fesesnya, yang seringkali mengandung antibiotik dan pestisida sistemik yang diberikan untuk menangkal penyakit dan hama. Akumulasi logam juga terjadi, terutama tembaga dan seng.
Prospek
Perikanan tangkap secara global mengalami penurunan dengan rusaknya berbagai habitat ikan. Budi daya ikan karnivora seperti salmon tidak membantu karena salmon justru memakan ikan lain yang sesungguhnya dapat dikonsumsi manusia.[40][41] Ikan yang berada pada tingkatan trofik yang tinggi pada rantai makanan cenderung tidak efisien sebagai produsen pangan.
Beberapa jenis akuakultur fotosintetik (alga dan rumput laut) dan hewan penyaring seperti kerang dan tiram cenderung lebih ramah lingkungan. Mereka juga menyerap polusi dan nutrisi berlebih di perairan sehingga meningkatkan kualitas air.[  Rumput laut menyerap nutrisi anorganik secara langsung dari air,[43] dan hewan penyaring menyerap fitoplanktondan partikel organik sehingga berperan sebagai detritivora.[44]
Berbagai organisasi akuakultur mempromosikan praktik usaha yang menguntungkan secara lestari dan berkelanjutan.[45] Metode ini mengurangi risiko pencemaran dan meminimalisasi stres pada ikan, mengistirahatkan kolam, dan menerapkan manajemen hama terpadu. Penggunaan vaksin diutamakan untuk mengurangi antibiotik.[46]
Sistem resirkulasi mendaur ulang air dengan menyaring kotoran ikan dan sisa makanan dan mengembalikan air yang telah bersih ke dalam tangki pemeliharaan. Sistem ini menghemat penggunaan air, dan limbah yang terkumpul dapat digunakan sebagai kompos. Sistem ini dapat diterapkan pada air tawar maupun air laut.[47]
Beberapa negara kini menggunakan energi terbarukan untuk akuakultur.[48] Di California, berbagai usaha budi daya ikan yang memproduksi ikan nilai, bass, dan lele mengambil air dari sumber geotermal sehingga mengurangi energi yang diperlukan untuk menghangatkan air. Dengan terjaganya temperatur air, ikan dapat tumbuh secara optimal sepanjang tahun dan menjadi dewasa lebih cepat. Secara kolektif, perikanan budi daya di California menghasilkan 4.5 juta kilogram ikan per tahun.





Senin, 22 April 2019

Potensi Besar Perikanan Tangkap di Indonesia




Indonesia sebagai Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki luas lautan sekitar 5,8 juta km², pesisir, dan pulau-pulau kecil yang luas dan bermakna strategis sebagai pilar pembangunan ekonomi nasional. Selain memiliki nilai ekonomis, sumber daya kelautan juga mempunyai nilai ekologis. Di samping itu, kondisi geografis Indonesia terletak pada geopolitis yang strategis, yakni antara lautan Pasifik dan lautan Hindia yang merupakan kawasan paling dinamis dalam arus percaturan politik, pertahanan, dan kemanan dunia. Kondisi geo-ekonomi dan geo-politik tersebut menjadikan sektor kelautan sebagai sektor yang penting dalam pembangunan nasional.
Khusus untuk perikanan tangkap potensi Indonesia sangat melimpah sehingga dapat diharapkan menjadi sektor unggulan perekonomian nasional. Untuk itu potensi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan lestari, Tugas ini merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pemilik usaha guna meningkatkan pendapatan masyarakat dan penerimaan negara yang mengarah pada kesejahteraan rakyat.
Pemerintah melalui KKP berupaya mendorong kedaulatan pangan masyarakat melalui peningkatan konsumsi ikan dengan berbagai kampanye Gerakan Makan Ikan (Gemarikan) yang melibatkan publik. Sejak tahun 2014 sampai tahun 2016 terjadi peningkatan konsumsi ikan masyarakat yang cukup besar, yaitu dari 38,14 kg/kapita/tahun pada tahun 2014 meningkat menjadi 43,94 kg/kapita/tahun pada tahun 2016.
Peluang pengembangan usaha perikanan Indonesia memiliki prospek yang sangat tinggi. Potensi ekonomi sumber daya kelautan dan perikanan yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai USD 82 miliar per tahun.
Potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia sebesar 6,5 juta ton per tahun tersebar di perairan wilayah Indonesia dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) yang terbagi dalam sembilan wilayah perairan utama Indonesia. Dari seluruh potensi sumber daya tersebut, guna menjaga keberlanjutan stok ikan jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) sebesar 5,12 juta ton per tahun.

Hanya Ada Satu Laut. Inilah Saat yang Tepat untuk Menyelamatkannya.




Pekan ini para pemimpin dunia bertemu untuk membicarakan bagaimana kita dapat mengatasi krisis laut global. Pertemuan ini berlangsung di Indonesia, sebuah negara maritim yang sangat bergantung pada laut, namun juga harus menghadapi berbagai tantangan.
Sekitar 266 juta penduduk Indonesia hidup berdampingan di atas hamper seribu pulau. Lebih dari setengah kebutuhan protein hewani mereka didapatkan dari ikan dan makanan laut. Bahkan, sebanyak 2,8 juta keluarga menggantungkan mata pencahariannya pada industri komoditas laut. Kepulauan Indonesia merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang memiliki lebih dari tiga perempat total spesies terumbu karang dunia dan lebih dari sepertiga spesies ikan yang hidup di terumbu karang di dunia. Indonesia juga tercatat memasok sekitar 10 persen keseluruhan komoditas laut global. Namun, penangkapan ikan berlebih (overfishing) dan jumlah ikan yang menurun mengancam keberlangsungan perdagangan hasil laut dan mata pencaharian penduduk Indonesia. Menurut perkiraan, Indonesia juga merupakan kontributor sampah plastik laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.
Karena kondisi geografisnya, Indonesia telah menjadi pusat perdagangan bersejarah. Akan tetapi, negara ini juga rentan terhadap kenaikan permukaan laut, badai besar, gempa bumi dan tsunami. Meskipun Indonesia dikelilingi laut yang berbeda nama, namun perairan ini membentuk satu kesatuan samudra yang membentang dan menghubungkan satu perairan dengan perairan lain di seluruh dunia. Samudra ini juga merupakan mesin pertumbuhan ekonomi: barang dan jasa kelautan dengan nilai yang diperkirakan mencapai sekitar U$2,5 triliun per tahun. Jumlah tersebut diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030. Dengan angka ini, laut menjadi kontributor Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar ketujuh di dunia.
Sebagai tuan rumah konferensi Our Ocean di Bali, Indonesia telah menetapkan laut sebagai komponen utama dalam rencana pembangunannya. Melalui doktrin poros maritime Presiden Joko Widodo, Indonesia berupaya untuk membangun kembali budaya maritim sekaligus meningkatkan kerja sama dengan negara-negara lain dalam menjaga dan mengelola sumber daya laut.
Serangkaian upaya ini dapat mendukung Ocean Action Agenda 2030, sebuah pendekatan global yang digagas oleh World Resources Institute, dalam rangka menyelaraskan upaya penyelamatan laut dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) menuju Ekonomi Laut Baru (New Ocean Economy); sebuah era dimana pembangunan ekonomi berkelanjutan dan pelestarian laut berjalan beriringan.
Tidak perlu menunggu waktu lebih lama lagi, sekaranglah saatnya kita bergerak. Seperti kita ketahui, industri makanan laut dunia senilai $190 miliar bergantung pada habitat ikan yang sehat. Di sisi lain, scuba diving, pemancingan dan kegiatan wisata lainnya juga ikut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir. Faktanya, kawasan mangrove adalah pabrik ikan bagi 210 juta orang yang tinggal di sekitarnya. Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia. Setiap hektarnya ini mampu mengurangi karbon lima kali lebih tinggi dari hutan tropis. Sementara itu, terumbu karang mampu mengurangi 97 persen energi gelombang sehingga berfungsi sebagai penghalang badai alami. Mangrove, terumbu karang dan sumber daya alam lainnya membantu mengurangi biaya yang harus dikeluarkan dalam upaya penyelamatan bumi sekaligus mengurangi erosi serta banjir di wilayah pesisir.
Coba kita lihat ikan hiu: seekor ikan hiu yang telah ditangkap memiliki nilai sekitar $108. Padahal, bila dibiarkan hidup, seekor ikan hiu dapat menghasilkan lebih dari $1 juta bagi perekonomian, ekosistem laut serta masyarakat yang menggantungkan penghidupan mereka kepadanya. Bagi mereka yang menyambung hidup dari memancing hiu, nilai $108 terdengar menggiurkan. Karena itu, untuk menjaga kelestarian ikan hiu dan menciptakan sumber pendapatan yang lebih besar untuk jangka waktu yang lebih panjang, dibutuhkan investasi infrastruktur dan sosialisasi kepada masyarakat luas terkait manfaat yang dapat dihasilkan dari pelestarian ikan hiu.
Melihat dekatnya hubungan antara laut dan perekonomian, ditambah urgensi untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan nomor 14 - “melestarikan dan memelihara penggunaan sumber daya samudra, laut dan bahari untuk pembangunan yang berkelanjutan” - kita membutuhkan komitmen selevel Perjanjian Paris untuk konservasi laut. Kekuatan di tingkat yang sama dengan pembentukan Perjanjian Paris untuk mengatasi perubahan iklim juga harus digerakkan untuk melestarikan satu-satunya laut yang kita miliki.

Strategi Apa untuk Tingkatkan Produksi Perikanan Budidaya di 2018?



Tidak seperti 2017, Kementerian Kelautan dan Perikanan memberi target signifikan untuk sektor perikanan budidaya pada 2018. Tak tanggung-tanggung, di tahun mendatang tersebut, produksi ditargetkan bisa melambung ke angka 24,08 juta ton atau naik hampir 3 juta ton dari 2017 yang ditarget mencapai 22,46 juta ton.
Bagi KKP, target tersebut sudah rasional dan diperhitungkan dengan matang. Setidaknya, hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto di Jakarta, awal pekan ini. Menurut dia, dengan target yang sudah ditetapkan, pihaknya akan bekerja keras melaksanakan program kerja di seluruh Indonesia.
“Tentu saja, didukung oleh anggaran yang besar,” ucap dia.
Anggaran besar yang dimaksud Slamet, adalah anggaran yang dikucurkan dari Pemerintah untuk KKP sebesar Rp7,28 triliun dan Rp944,8 miliar di antaranya dikucurkan untuk Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB). Anggaran yang besarnya hampir Rp1 triliun itu, diakui dia cukup untuk menggeber berbagai program dari Sabang hingga Merauke sepanjang 2018 mendatang.
Dari dana yang didapat tersebut, Slamet menjelaskan, 68 persen di antaranya akan digunakan untuk program yang sifatnya prioritas, 8 persen untuk program pendukung, dan 24 persen untuk program rutin. Untuk progam prioritas yang akan digeber nanti, diantaranya adalah kegiatan perbenihan, produksi dan usaha budidaya, pakan dan obat, serta operasional perkantoran dan dukungan manajemen.
“Untuk target produksi, kita tetapkan 7,91 juta ton ditargetkan berasal dari produksi budidaya perikanan dan 16,17 juta ton dari rumput laut,” tutur dia.
Di antara program yang akan dilaksanakan tersebut, Slamet menyebut, pihaknya akan membangun pabrik pakan ikan dan embung di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Pembangunan tersebut, akan menelan anggaran masing-masing sebesar Rp14,8 miliar dan Rp14,16 miliar.
Pemilihan Pangandaran yang merupakan tempat asal Susi Pudjiastuti itu sebagai salah satu lokasi program prioritas, menurut Slamet, adalah karena daerah tersebut dinilai punya potensi ganda yang sama baiknya, yakni potensi untuk air payau dan sekaligus air tawar. Dengan potensi tersebut, maka sangat dimungkinkan untuk menjalankan program perikanan budidaya dan tangkap sekaligus.
“Dari sisi lautnya, itu sangat dimungkinkan untuk KJA (keramba jaring apung) lepas pantai. Kemudian, di sana juga dekat dengan daerah pertanian,” jelas dia.


Gandeng Norwegia
Salah satu upaya untuk menggenjot produksi, KKP menggandeng Norwegia untuk melaksanakan program KJA lepas pantai di tiga lokasi, yakni Sabang (Aceh), Karimun Jawa (Jawa Tengah), dan Pangandaran (Jawa Barat). Negara tersebut dipilih, karena sebelumnya memiliki jejak rekam yang bagus dalam pengembangan KJA lepas pantai.
“Norwegia merupakan negara maju dengan mengandalkan akuakultur sebagai prime mover dalam mendongkrak perekonomian negaranya. Bayangkan, sekitar 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) Norwegia disumbang dari industri akuakultur. Kita dengan potensi sumberdaya perikanan melimpah tentunya harus optimis mampu meniru langkah Norwegia,” ungkap dia.
Slamet menambahkan, Norwegia merupakan contoh tepat sebagai negara yang mampu memanfaatkan potensi budidaya laut dengan inovasi teknologi modern, utamanya pengembangan budidaya laut lepas pantai (offshore). Oleh karenanya, saat ini KKP menginisiasi penerapan teknologi tersebut dengan mengadopsi keseluruhan teknologi dari Norwegia.
Menurut Slamet, tiga KJA yang sedang dibangun itu, diharapkan sudah mulai ditebar benih pada Desember 2017 ini. Ketiganya menggunakan teknologi yang ada di Norwegia dan itu akan menjadi proyek percontohan untuk industri marinkultur yang dikelola secara berkelanjutan.
“Bedanya, kalau di Norwegia itu produksinya adalah salmon. Kalau di Indonesia, produksinya itu untuk komoditas kakap putih. Kami akan membudidayakan komoditas tersebut dengan KJA offshore,” ujar dia.
Menurut Slamet, pemilihan kakap putih juga dilakukan karena komoditas tersebut menjadi andalan dan merupakan jenis ikan laut yang tidak harus dijual dalam kondisi hidup. Dengan kata lain, kata dia, kakap putih bisa dijual dalam bentuk olahan seperti fillet segar.
“Kita budidayakan kakap putih di offshore, juga karena pada pertimbangan bahwa komoditas tersebut bernilai tinggi dengan pasar jelas seperti Tiongkok dan Hong Kong. Kemudian, pasar kakap putih juga bisa dipasarkan hingga ke Eropa, Timur Tengah, dan juga Australia,” jelas dia.
Selain pasar luar negeri, Slamet menyebut, komoditas kakap putih juga diminati oleh pasar dalam negeri. Saat ini, pasar dalam negeri masih didominasi oleh Sumatera Utara, Kepulauau Riau, Lombok (Nusa Tenggara Barat), Bali, dan Jakarta.
“Di dalam satu unit KJA offshore yang mengapung di lepas pantai, dia menjelaskan, terdapat enam lubang dengan diameter 50 sentimeter,” tutur dia.
Dengan jumlah lubang tersebut, Slamet mengatakan, produksi kakap putih bisa didorong dengan hasil panen 568 ton per siklus. Untuk setiap panen, rerata kakap putih ukurannya mencapai 600 gram.
“Program KJA offshore tersebut berpotensi menghasilkan nilai Rp39,7 miliar untuk sekali panen,” jelas dia.

Pekerja sedang memanen ikan nila dari budidaya keramba jaring apung di Danau Toba, Sumut. Tingkat produksi ikan nila dipengaruhi salah satunya oleh pakan ikan yang baik. Foto : Ariefsyah Nasution/WWF Indonesia/Mongabay Indonesia


MenteriKelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menganggarkan Rp 944,85 miliar untuk Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya tahun depan. Jumlah anggaran tersebut sesuai dengan isi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) APBN 2018 yang telah diberikan olehnya kepada Dirjen Perikanan Budidaya Slameg Soebjakto hari ini.
Berdasarkan data Ditjen Perikanan Budidaya, anggaran sebesar Rp 944,85 miliar tersebut akan digunakan 68% di antaranya untuk kegiatan prioritas, 8% untuk kegiatan pendukung dan 24% untuk kegiatan rutin. 
Dari anggaran sebesar Rp 944,85 miliar tersebut, Ditjen Perikanan Budidaya menargetkan produksi perikanan budidaya tahun depan sebesar 24,08 juta ton, dengan rincian 7,91 juta ton untuk produksi budidaya perikanan dan 16,17 juta ton untuk rumput laut.